Dharma Tatwa dalam rangka hari Raya Galungan dan Kuningan

Dharma Tatwa dalam rangka hari Raya Galungan dan Kuningan

Om Swastyastu,

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan dan  Salam sejahtera untuk kita semua. Semoga dihari kemenangan Dharma ini kita mendapatkan anugrah dari Ida Hyang Widhi berupa fikiran yang jernih dan tentu saja kesehatan yang baik.

Dalam rangka merenungkan makna Hari Raya Galungan Dan Kuningan, penulis merangkum Dharma Tatwa yang dilaksanakan dalam suatu acara seminar di Jakarta dengan topik “Dharma Tatwa dalam konteks manajemen modern” dimana yang berbicara adalah Bapak Gede Prama MA. MSC dan Irjen Pol (Pur) Drs Putera Astaman.

Berikut adalah petikannya.

Seminar ini diawali dengan sambutan Ketua Parisada DKI Jaya dan Dirjen Bimas Hindu dan Budha. Dengan ciri ke-Bali-nya yang kuat namun polos, Ketua Parisada menyatakan penghargaan kepada penyelenggara yang telah berhasil melaksanakan seminar ini, mengingat betapa “aneh” nya karakter umat Hindu (Bali); yaitu sulitnya mengumpulkan umat dalam acara-acara seperti ini, yaitu termasuk untuk membicarakan masalah-masalah keagamaan. Ia meneruskan, bahwa baik pembicara maupun yang mendengarkan adalah sama-sama melaksanakan yajna. Sehingga acara-acara seperti ini memang banyak manfaatnya. Ketua Parisada yang pinandita ini, juga mengingatkan bahwa hidup ini hanya sebentar (segemerlap kilat) seperti yang diamanatkan oleh pustaka Sarasamuccaya, belum lagi dikurangi oleh sakit, melamun (bengong) dan lain sebagainya. Oleh karena itu manfaatkan hidup yang pendek ini dengan sebaik-baiknya.

Sementara, Dirjen yang suaranya seolah-olah sangat sabar, seperti orang tua yang bijak sedang menasehati cucunya; mengharapkan agar umat banyak belajar dari hewan, seperti ular dan macan yang benar-benar mampu menerapkan manajemen kehidupan dengan baik. Kedua hewan ini hanya makan ketika lapar, tidak lebih dari itu sementara manusia tidak seperti itu. Manusia makan terus menerus, walaupun sudah hampir muntah. Oleh karena itu Dirjen sangat mengharapkan agar para peserta seminar mendengarkan dengan baik, lalu mendiskusikannya dalam dialog; sehingga setelah meninggalkan tempat seminar dengan konsekwen berupaya untuk mewujudkan dalam sikap dan perilaku kehidupan.

Pada intinya, Putera Astaman menyampaikan agar umat Hindu selalu berupaya untuk menghindarkan diri dari fenomena kekerasan yang sedang merebak dan menjebak kearifan serta menghancurkan nilai-nilai luhur bangsa. Ia mengingatkan bahwa ciri kehidupan bermasyarakat Nusantara adalah hidup rukun dengan sesama anggota masyarakat yang berlainan agama, suku, ras dan sebagainya. Lalu, kaitannya dengan Pemilu mendatang, umat Hindu dipersilahkan untuk ikut dalam kegiatan partai politik dengan pilahan-pilahan dan “bargaining” yang tepat.

          Gede Prama sebagai pembicara sukses, dengan logat BaJun (Batak Tajun) nya, yang telah mencapai tataran internasional, lebih cenderung memberikan arahan yang menyejukkan dengan mengikuti filosofi air sebagai landasan kebijaksanaan, dalam menghadapi situasi negeri ini, yang sedang panas, karena telah mengabaikan dan membiarkan sang api untuk terus membakar. Khususnya peristiwa yang terjadi di Buleleng, Bali; Gede Prama menyampaikan bahwa kebijaksanaan “air” nya bukanlah sesuatu yang populer, karena tidak akan mudah diterima oleh orang-orang yang menikmati panasnya api.

          Hendaknya setiap orang memancarkan keteduhan dan kesejukan seperti karakter air. Jangan pernah lupa untuk selalu teduh, jernih, hening; karena sebesar apapun panasnya api, pasti akan bisa dijinakkan. Di tengah- tengah panasnya api yang sedang melanda negeri ini, maka hanya airlah yang diperlukan untuk memberikan kesejukan.

          Konsep kehidupan sejahtera (dalam bahasa Hindu adalah jagadhita) Gede Prama sangat sederhana, apabila kita mampu menaklukkan satu kata yaitu “keserakahan”; maka kesejahteraan atau jagadhita itu akan tersenyum kepada kita. Dengan penggambaran-penggambaran yang menarik dan humor-humor segar, sang pengembara dan penonton wayang “televisi” kehidupan ini melontarkan nilai-nilai spiritual yang tampaknya sederhana, namun sebenarnya memiliki “spiritual and metaphysical value” yang tinggi; telah menghipnotis para pendengar dan tenggelam dalam medan magnet tak terlawan yang dibuatnya. Untuk itu, penulis mencoba menyimak dan menyajikan pokok-pokok “survival wise” yang disajikan Gede Prama, sang pengembara, spiritualist dari Tajun, Singaraja – Bali.

Pikiran yang dipenuhi oleh keserakahan, akan membuat kita salah mengartikan kesejahteraan itu. Hidup yang diawali dengan keserakahan, diisi dengan keserakahan; akan berakhir pula dengan keserakahan. Akibatnya, kejernihan dan kesejukan akan hilang oleh keserakahan; bahkan nilai-nilai kesucianpun akan pupus oleh uap keserakahan. Kesejahteraan tidak dijamin oleh banyaknya harta benda, sehingga orang yang memiliki harta benda yang banyak belum tentu kesejahteraannya lebih baik.

Dalam hidup ini terkadang kita sering membandingkan “keatas”. Padahal pembandingan adalah “hobi” yang serakah. Harus diingat bahwa surga bukanlah “tempat”, tetapi surga adalah “sikap”. Namun sayangnya, sikap kita sering  dikendalikan oleh keserakahan. Oleh karena itu, “pembandingan” adalah kata kunci dalam kehidupan sejahtera. Seekor tikus meminta penyihir untuk merubahnya menjadi kucing, karena sering dikejar-kejar kucing. Setelah menjadi kucing, ia ingin menjadi anjing karena sering dikejar anjing. Setelah menjadi anjing ia ingin menjadi macan, dan seterusnya. Inilah sifat manusia yang tak pernah puas dengan keadaannya, selalu membandingkannya dengan yang lebih tinggi. Maka hidup orang yang seperti ini tidak akan pernah mencapai kesejahteraan. Karena ia selalu mengikat dirinya dengan keinginan yang tak pernah henti. Manusia hidup di bumi dengan merdeka, tidak membiarkan dirinya terikat, manusia hidup untuk “mengalami” bukan untuk menjadi “pengalaman”. Pengalaman bukanlah beban yang harus digendong, dibawa-bawa ke mana-mana. Tumbuhkan kejernihan, hentikan keserakahan mendikte kehidupan ini; maka kita semua akan menuju kesejahteraan. “We can be prosper at any level of income” (kita sejahtera pada semua tingkat pendapatan).

Para pengusaha, yang mempunyai banyak uang, belum tentu bahagia. Demikian pula orang yang semakin banyak menghujat, maka orang ini semakin memperlihatkan kelemahannya. Sejahtera memang berhubungan dengan uang, tetapi sejahtera tidak disebabkan oleh uang. Banyak orang kaya, punya uang; tetapi tidak “memiliki” kesejahteraan, karena gagal menjadi manajer bagi hidupnya. Karena seluruh perjalanan karirnya berorientasi kepada uang, maka sebenarnya ia hanya punya karir tetapi tidak punya kehidupan. Idealnya, kita yang seharusnya mengurusi uang, bukan kita yang diurusi oleh uang. Inilah orang yang berhasil menjadi manager hidupnya. Berbahagialah ketika anda melihat tetangga anda bahagia.

Dari pengamatan keseharian, tampak beberapa karakter anggota masyarakat. Pertama, orang yang dikendalikan oleh “badan”, oleh kebutuhan fisiknya, dikendalikan oleh makanan. Yang ada dalam pikirannya hanyalah makan, seolah hidupnya hanya untuk makan. Kedua, diatas badan, terdapat kelompok orang yang hidupnya hanya mementingkan pikirannya. Pada tataran ini, orang membuat kotak-kotak, pikirannya berwujud hitam dan putih (rwa bhineda). Kepintaran pada tingkat ini hanyalah akan mencelakakan. Keserakahan hidup, ibarat mendaki gunung, ketika tiba di puncak, tetapi tidak menemukan kejernihan; maka kita akan terlempar dan terjebak ke dalam kolam kesedihan yang tak bertepi. Hidup ini tergambar seperti layar-layar televisi yang sedang menyajikan sinetron-sinetron kehidupan. Kita patut berhati-hati, agar kita tidak menjadi pemain sinetron itu; tetapi kita tetap menjadi pengamat (pemirsa), maka hidup ini akan sejahtera.

Hidup ini memang memebutuhkan uang, tetapi sebagai manajer kehidupan kita harus memperlakukan uang sesuai dengan perannya. Di awal kehidupan, ketika uang yang kita miliki masih terbatas, kita menentukan peran dan manfaat terbatas uang itu. Ketika uang yang kita miliki sudah banyak, maka uang akan menjadi sumber enerji, bisa digunakan untuk banyak hal. Namun dibalik itu, kita harus berhati-hati, karena uang bisa menjadi pembelenggu; oleh karena itu peran dan manfaat uang harus dikembalikan sesuai dengan porsinya. Ketika ada wawancara imajiner antara seseorang dengan uang. Uang mengatakan bahwa paling enak berada berada di rumah orang serakah, karena disana uang menjadi raja. Dan paling tidak enak berada di rumah orang bijaksana, karena di rumah orang bijaksana uang hanya menjadi pembantu. Karena itu kesejahteraan ada di rumah orang bijaksana, dimana uang hanya berperan sebagai pembantu, tidak lebih.

Hidup ini ibarat menyapu lantai, hilang sampah maka akan ada sampah-sampah kertas, ketika sampah hilang akan muncul lagi debu-debu. Oleh karena itu debu-debu kesejahteraan ini harus disapu dengan sapu bernama”cukup”. Katakan dalam doa anda (kalau berani !), “Tuhan, sudah cukup uang yang Kau berikan”. Kalau tidak berani mengatakan ini, maka anda akan menuju kepada tiga huruf “mujizat”, yaitu UGD (Unit Gawat Darurat), atau anda akan menjadi invalid (karena stroke) atau menuju kuburan.

Banyaknya ranjau-ranjau sangat mempengaruhi kehidupan seseorang, suara-suara kiri kanan di masyarakat sering menyesatkan kita; sehingga kita sering berpaling dari jalan yang telah ditentukan. Oleh karena itu, ada baiknya kita menggunakan manajemen “resluiting celana”. Ketika anda lupa mengancing resluiting celana, karena anda tidak tahu, maka anda tenang-tenang saja mondar-mandir di pasar; sementara orang lain yang melihatnya panas-dingin, membayangkan apa yang ada di balik resluiting celana anda. Yang sibuk adalah orang lain, sementara kita santai saja, tidak terpengaruh oleh sikap orang-orang itu. Artinya, biarkan saja orang berbicara, sejauh kita melakukan hal-hal yang baik, biarkan omongan itu berlalu. Dalai Lama menyatakan bahwa kebahagiaan adalah “eat well, sleep well” (makan enak dan tidur nyenyak).

Hidup ini ibarat mengupas bawang merah, semakin dikupas, semakin bening; akhirnya yang ada hanya air mata. Sebaik-baik hidup adalah bagaimana sebagai umat Hindu yang selalu berupaya untuk membangun pura di dalam hati; hidup dengan pikiran yang jernih, wacana yang sejuk dan perbuatan yang membahagiakan orang lain. Seorang sufi, Rumi, pernah mengatakan bahwa setelah mati beradalah di dalam hati manusia. Kita hidup di dalam “jejaring” yoga; yang selalu berjalan dalam siklus lahir, hidup dan mati; sebuah lingkaran kehidupan. Indonesia saat ini ibarat sebuah pohon yang berbunga, ketika bunganya hilang maka buahnya akan muncul. Bunga adalah simbol keserakahan hidup, setelah bunganya hilang dan buahnya muncul; maka terwujudlah “sacred beauty” (keindahan yang suci); demikian yang disampaikan sang pengembara berbagai dimensi kehidupan dari Tajun. 

Semoga Dharma Tatwa ini dapat memperkaya khasanah spiritual kia dalam memahami hidup dan kehidupan ini.

Ashtungkara Yonamah Swaha. 

Dewa Made Dwipayana

Jl. Gunungsari Blok D-23

Padangsambian Kaja, Denpasar Barat 80117

Phone 0361 427230

Mobile 0816 572800

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s